Sabtu, 13 September 2014

JILBAB PRESTASI



bismillahirrahmanirrahiim
Aku mendengar kisah ini langsung dari Amalia D. Maghris, seorang teman yang sama-sama menuntut ilmu di kota pelajar Yogyakarta. Masa-masa kami dulu di pulau dewata membuat kami masih saling bertukar cerita. Apa yang dialami kurang lebih hampir sama dengan beberapa pelajar putri yang bersekolah di Bali. Keinginan untuk membagi cerita ini karena cukup miris dengan apa yang kami lihat di Yogyakarta yang tidak ada tekanan berjilbab. Aku meminta ijin padanya untuk ikut berbagi dengan menuliskannya. Berniat untuk menginspirasi...
Kami berasal dari keluarga sederhana yang melihat jilbab biasa saja. Bahkan beberapa anggota keluarga kami masih kurang nyaman dengan jilbab. Sebab masih terasa represi dari rezim orde baru yang membatasi atribut keagamaan. Kami sama-sama anak pertama yang memiliki adik, sehingga ada rasa tanggung jawab lebih untuk dapat menjadi contoh yang baik.
Kami berdua dipertemukan dalam sebuah pelatihan kepemimpinan di Denpasar saat masa liburan sekolah. Aku menjadi salah satu pengelola kelas, biasa disebut instruktur dalam organisasi pelajar yang kami laksanakan tiap tahun. Kegiatan rutin yang mengundang seluruh pelajar Islam untuk melatih kemampuan memimpin. Amalia menjadi salah satu peserta, diantara yang lain Amalia cukup memiliki potensi menjadi penggerak untuk lingkungannya
.
Untuk ukuran pelajar Islam di Bali, kajian keIslaman dan organisasi kurang mendapat dukungan dari pemerintah. Otonomi daerah yang kemudian membatasi gerakan secara terbuka ditambah tendensi  pasca bom Bali yang mendeskreditkan Islam secara tidak adil. Kesamaan yang juga membuat kami dekat secara personal adalah rasa keberIslaman yang didobrak seusai mengikuti pelatihan kepemimpinan tersebut. Tantangan masyarakat juga cukup membuat kami menyadari, salahkah kita menunjukkan keberIslaman kita?
Berawal dari proses pencarian diri, awal masuk SMP negeri aku melihat seorang kakak kelas menggunakan penutup kepala. Kerudung itu yang memperlihatkan perbedaan dengan anak lain seisi sekolah. Walau masih berlengan pendek dan rok sampai sebatas lutut. Aneh memang, tapi aku pun mencoba hal yang sama beberapa hari setelah masa orientasi siswa baru usai. Namun belum lima menit menginjakkan kaki dari halaman sekolah, aku dipanggil oleh bagian kesiswaan. Katanya, sekolah ini umum sehingga tidak akan membedakan dengan atribut yang berbeda. Karena keterbatasan ilmu dan dukungan keluarga, kerudung itu aku tanggalkan. Pelajaran agama yang hanya dua jam setiap minggu ditambah jarangnya guru datang membuat pemahaman agama kami hanya hapalan untuk mengisi jawaban saat ujian. Waktu solat kami harus hilang jika ada pelajaran hingga sore. Pakaian olahraga yang sangat mini juga membuat risih.
Menjelang akhir masa SMP aku diminta aktif menjadi anggota remaja masjid dekat rumah. Bertemu dengan jilbaber yang cukup memberi kesan “menyebalkan”. Ya, mereka senior yang kerjanya mengkritik tanpa solusi. Sehingga aku belajar, jilbab itu bukan hanya menutup kepala tapi lebih utama menjilbabi hati. Pernyataan ini banyak digunakan sebagai pembenaran perempuan yang masih “gerah” dengan jilbab. Hingga aku juga menyampaikan keenganan mengenakan jilbab pada ibu ku. “buat apa pakai jilbab kalau perilakunya jelek”.
Kemudian Allah menegur dengan tidak diterimanya aku di SMA negeri bukan karena nilai. Tapi karena nama ku berbeda dengan nama orang setempat. Itu aku dapatkan setelah mengetahui diterimanya seorang teman yang nilainya dibawah ku namun diterima. Tentu nama teman ku itu asli orang setempat. Pilihan hanya pada sekolah Islam yang ku tahu kredibilitasnya cukup “negatif” diantara sekolah lain. Apa boleh buat, ibu ku memberi saran daripada swasta lain disini lebih agamanya.
Bayangan ku jatuh ketika mengetahui moral siswa disini tidak kalah dengan sekolah lain yang tidak menyandang agama. Kain kerudung ku hanya tersampir saat sekolah saja. Jilbab helm ku sebut, karena digunakan waktu tertentu saja. Pendidikan untuk memahamkan esensi jilbab pun kurang. Hanya seragam, tak lebih. Proses pencarian diri terus berlangsung...
Saat itu Juni 2005, undangan pelatihan aku terima dari salah satu pengurus remaja masjid. Karena tidak mudah mencari anak yang bersedia mengikuti kegiatan seminggu penuh aku pun menjadi salah satu kandidat. Kekecewaan terhadap tidak diijinkannya aku untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika merasa ada penyaluran. Orang tua terlalu khawatir untuk melepas aku pergi ke negara yang mereka kira “mengerikan”. Padahal sebagai tujuan wisata dunia, Bali pun tidak kalah “mengerikan”.
Pendobrakan internalisasi Islam yang aku terima setelah pelatihan membuat aku untuk menargetkan peningkatan kualitas ibadah setelahnya. Ramadan menjadi titik penting, rambut sebahu ku potong hingga sekitar 1 cm. Ini ku lakukan untuk “memaksa” diri untuk terus menutup saat bertemu dengan orang non mahrom. Efektif untuk ku, dengan alasan ini aku bisa menajwab saat saudara ku yang lain melihat kejanggalan diri ku.
Tepat pada tahun ketiga SMA, jilbab ku hingga kini tetap memahkotai kepala ku.
Ada hal luar  biasa yang ku alami. Tekanan tahun pertama dan kedua SMA ketika berseragam jilbab cukup kuat. Seragam sekolah ku paling berbeda dari yang lain sehingga mendapat banyak julukan yang membuat kesal namun tidak mampu diselesaikan.
“pocong siang-siang”, “ninja”, “tidak punya daun telinga”, “sok suci” dan lainnya.
Umpatan itu sama sekali terhenti saat sudah berupaya menata hati seiring dengan jilbab yang ku kenakan. Mengurangi sikap yang justru nantinya menjelekkan jilbab lalu Islam. Perubahan penampilan diiringi perubahan sikap. Keluarga menerima dan semakin mendukung aktifitas ku berorganisasi.
Tentu pilihan ini berkonsekuensi, jilbab harus bisa dibuktikan dengan prestasi. Tahun terakhir di SMA itu aku tutup dengan lima besar terbaik. Merasa terlambat sadar, tapi daripada tidak sama sekali. Keimanan kita mendukung keilmuan kita, begitu juga sebaliknya. Kajian jilbab secara perintah di Al Qur’an yang ternyata sama wajibnya dengan solat. Sehingga itu menjadi implikasi dari ketauhidan penggunanya. Dikuatkan dengan penemuan terkini secara psikologis, sosial dan kesehatan.
Dalam psikologi perempuan, kita ingin dihargai. Menutup aurat merupakan upaya menghargai diri sehingga lingkungan akan menghargai. Hati menjadi tenang karena kemudian tidak terjebak dengan mode tapi lebih ke kualitas otak dan hati. Hal yang dilakukan jilbaber semestinya lebih produktif tidak konsumtif dari apa yang ada. Tentu prestasi mudah diraih.
Secara sosial, masyarakat akan menjaga sikap bila berhadapan dengan orang yang menjaga diri dari sembarangan pandangan. Sikap yang terjaga akan menjadi contoh lingkungan sekitarnya. Ledakan seks bebas dapat ditekan dengan menjaga pandangan. Masyarakat sebagai kumpulan individu berprestasi kemudian semestinya akan membentuk diri sebagai masyarakat berperadaban.
Dan menurut kesehatan banyak manfaat yang diperoleh dari tertutupnya kulit perempuan dari snegatan matahari dan debu langsung. Disini aku meyakini akan kuasa Allah Maha pengatur yang jauh lebih paham kita sebagai ciptaan-Nya. Aturan yang dibuat sesuai dengan fitrah. Seperti buku petunjuk penggunaan peralatan elektronik yang menyesuaikan dengan kondisi peralatannya. Al Qur’an dan Assunah sebagai petunjuk menjadi manusia pun telah sangat komprehensif mengatur kehidupan manusia. 
Hal ini juga kurang lebih dialami Amalia, kepulangan dari pelatihan kepemimpinan dari organisasi yang sama dengan ku itu membuatnya memilih jilbab. Amalia beberapa kali diskusi dengan ku dan beberapa teman satu organisasi untuk menyiapkan perijinan menggunakan jilbab di sekolah. Kepala sekolah tidak memberi jawaban tegas, boleh atau tidak. Kemudian Amalia tetap “nekat” menggunakan jilbab di sekolah. Tantangannya adalah membuat seragam khusus yang tidak disediakan di sekolah. Biaya dan kegelisahan hati menyiapkan reaksi seisi sekolah dengan penampilan “baru” Amalia dengan jilbab.
Hari pertama, Amalia seperti “makhluk asing” yang mendapat sorotan banyak mata. Ya, karena dia pertama yang berbeda. Amalia meminta teman-teman satu gerakan organisasi untuk doa dan dukungan agar dikuatkan. Amalia menginjak tahun ketiga juga saat itu. Proses yang dilalui tidak semulus aku yang telah bersekolah di sekolah Islam. Sekolah Amalia umum dan menemui seorang guru yang tendensius melarang Amalia mengikuti mata pelajarannya. Beberapa kali diskriminasi dialami dengan pemberian nilai yang buruk dan tidak dianggap kehadirannya.
Disini nampak, Allah akan memberi kekuatan bagi siapa yang berjalan menegakkan agama-Nya.
Amalia memborong berbagai prestasi yang diikutinya. Selain terkenal karena jilbab yang digunakannya, sejumlah prestasi membuat label “serakah” prestasi disandangnya. Ini bagian dari bentuk tanggung jawab terhadap pilihan. Berjilbab dan berprestasi adalah sebuah keniscayaan. Iman disandingkan dengan ilmu menjadi cahaya tersendiri bagi pemiliknya. Konsekuensi keimanan kita adalah amal yang dikuatkan ilmu tersebut.
Beberapa adik kelas Amalia mengikuti jejaknya untuk menutup aurat, karena label “jilbab prestasi” menjadi gengsi tersendiri. Keberlanjutan ini menjaga nilai Islam di tengah kepungan otonomi daerah yang ternyata hanya mengakomodir kebebasan berekspresi dengan meninggalkan atribut beragama. Kebebasan yang membatasi bukan kebebasan sebenarnya. Mendukung rok mini harusnya seimbang dengan mendukung jilbab. Kebebasan apa yang diperjuangkan, bila ternyata masih dibatasi seperti ini?
Memang kami belum sepenuhnya benar, tapi kami berupaya benar di hadapan Pencipta kami. Agar tidak “menyesal” menciptakan kita.
Jilbab bukan simbol, tapi sebuah eksistensi sebagai muslimah. Tanpa jilbab, masihkah identitas muslimah pantas? Sebab Islam berarti tunduk, muslimah tentu tunduk dengan aturan Islam. Jilbab bukan pembatas ekspresi, justru ruang berekspresi seluas-luasnya menjadi perempuan. Sebab perhiasan mewah dibungkus kotak yang cantik, tidak diobral dengan murah.
Waktu hijrah ke berbagai tempat yang membebaskan penggunaan jilbab, bahkan mewajibkan jilbab justru terasa jilbab kering makna. Rambut depan dan ekor rambut yang sengaja ditampakkan. Kerudung tipis dan baju membentuk tubuh. Bahkan hanya sebagai bagian dari mode terkini. Keimanan seseorang diukur dari seberapa lebar jilbabnya.
Jilbab, bukan aturannya yang salah. Tapi penggunanya yang tidak mengikuti aturan pemakaian sehingga terjadi mal praktek dan gangguan pada lingkungan sekitar. Jilbab sebagai garis tegas untuk menjaga konsistensi kita memperbaiki diri.
Perempuan, muliakan diri dengan jilbab prestasi J

 #Dari Seorang Kakak



About the Author

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar


iklan

 

Copyright © Afifah Atthahirah . All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com